Cerita Pendek -- Podcast Kehidupan

     


 "Haloo lang, tunggu sampai ada suara lagi ya!! Jangan ditutup dulu"

Pertama kali suara itu kudengar, aku tak tau apa yang terjadi dengan perasaanku. Kulihat locksreen HP ku menunjukkan pukul 23.00 WIB. Mungkin  karena terlalu sering aku bertukar cakap dengannya, hingga telepon dari dia semalam ini pun aku tak berani menolaknya. Ini tidak biasa, namun aku belum mengerti apa yang kurasakan.

Mungkin terdiam didepan meja belajar dengan menunggu ada suara lagi dari sebuah telepon tanpa berbuat apa-apa merupakan hal konyol bagi sebagian orang. Namun, itu yang kulakukan setelah suara dering itu kuangkat. 

    "Ehmm" (terbatuk sengaja).
    "Maaf, aku tak berani kebelakang, tapi aku sudah tak tahan".

Lucu memang, kukira untuk apa panggilan telepon tadi. Ternyata dia takut untuk ke kamar mandi.

Sempat berbisik pada diri sendiri

    "Mengapa aku yang dia pilih untuk menemani dia di larut mlam seperti ini?".

Ah sudahlah. Ketika aku hendak berbicara, HP ku mati tiba-tiba. Sial, ternyata barang elektronik itu kehabisan energinya. Terlalu asik dengan dunia virtual sampai-sampai tak kuperhatikan daya HP ku.
Malam itu kusudahi dengan mematikan lampu kamarku dan mengistirahatkan tubuhku.

    Kringgg...
   "Halo... Kenapa semalam dimatikan?Mengganggu ya?"

Mungkin harus kutambahkan dalam list keseharianku tentang telepon dari dia. Yaa, karena hal itu terus berlanjut di malam-malam berikutnya. Karena mungkin sudah menjadi kebiasaan, 10 menit sebelum jam itu aku sudah harus menyelesaikan semua pekerjaanku.

Sudah seperti wattpad, setiap malam selalu ada saja cerita baru yang ia perdengarkan kepadaku. Terkadang aku hanya mendengarkan setiap ceritanya saja. Namun, tak jarang dia juga seperti membuka podcast dengan semua pertanyaan yang dia lontarkan kepadaku. 

    Pagi ini hari ulang tahunku. Entah darimana dia tau, tiba-tiba dia meminta padaku sebuah menu makanan. Karena memang sudah menjadi tradisi di sekolahku, jika seorang yang ulang tahun harus mentraktir teman-teman dekatnya. 

    "Selamat ulang tahun konten podcastku, Aku cuma punya satu permintaan untukmu jangan bosan menjadi ajang podcastku tiap malam. Jangan sekali kau tolak dering telepon dariku."

Kali ini hanya lewat chat saja, tapi sungguh itu yang kutunggu darinya. Aku hanya menimpali pernyataannya dengan membelikan sebuah sterofoam makanan yang isinya sebuah ayam geprek dan kepalan nasi hangat.
Lucu memang, tapi kusamakan saja dengan permintaan teman-temanku di ulang tahunku kali ini. Sebungkus ayam geprek lengkap dengan sambal matah.

Satu Bulan berlalu....

Malam ini adalah malam penantianku setelah jeda panjang tanpa suara yang kudengar tiap malam darinya. Setelah drama ayam geprek itu, aku pulang kerumah dengan nasehat pedas dari ayah dan ibuku. Ayah dan ibuku merupakan orang yang peduli terhadap pendidikan. Dan hari itu merupakan hari yang buruk setelah nilai laporan semesterku yang biasanya dapat kubanggakan kali ini grafiknya seperti turunan rollercoaster. 

Kuhitung sekitar satu bulan aku vakum tanpa HP kemanapun. Bukan karena tanpa sebab, melainkan konsekuensi yang harus kuterima setelah nilaiku anjlok adalah disitanya HP ku oleh ayahku. Tak sampai disitu, akupun dikirim ke sebuah lembaga belajar bahasa inggris di kotaku selama liburan ini.


   Berdering
   "Halo, emm apa kabaa.."

Kali ini aku harus memulai panggilan duluan karena mungkin dia heran dengan kepergianku selama ini. Belum sampai kuteruskan pertanyaanku perihal kabarnya, ternyata itu bukan suara dia,melainkan panggilan log sistem permintaan meninggalkan pesan suara. Ini memang bukan salahnya, aku memang menghilang begitu saja dengan meninggalkan puluhan  panggilan tak terjawab darinya karena HP ku harus disita sementara oleh ayahku.

Sepulang dari bimbel tersebut mungkin masih ada jeda waktu liburan selama tiga hari. Dan aku menerima ajakan temanku untuk pergi ke pantai dengannya. Temanku ini tau segala hal tentangku. Tanpa angin tanpa hujan, ia bercerita kepadaku bahwa si dia yang selama ini menjadikanku podcast di kehidupannya sudah menjalin hubungan dengan teman se-angkatanku juga.


    "Kurasa kau yang salah, kau meninggalkannya bagai asap tertiup angin. Padahal sebelumnya kaian sudah sedekat asap dan rokok." (Temanku menggerutu).
                                                           




Podcast Kehidupan by: Firmansyah
Kediri, 29 Juni 2021                        



Komentar

  1. Ehmm...
    Ada yang flashback nih, gas deketin diaa lagi berani gaaa?

    BalasHapus
  2. Dek aku bali bakal nepati janji, tak buktekke kowe ojo ngasi lali
    (numpang nyanyi)

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. ada yang patah tapi bukan ranting;v

    BalasHapus

Posting Komentar